Tak tahu kenapa hari menjelang malam ditengah hujan
mengguyur kotaku ini, aku merasa kurang gembira. Mungkin ini hanya perasaanku
saja atau mungkin ini ada perasaan sayang yang akan kutinggalkan esok hari,
sebuah kehangatan yang tidak akan kurasakan lagi, sebuah kenyamanan berkeluarga
yang saat ini aku rasakan akankah bertahan hingga aku balik esok nanti ?
gelisah bercampur rindu akan perjuangan
yang selalu mengusik tidurku dalam liburan semester ini. Aku tahu semua
keputusan harus ada konsekuensinya, termasuk aku akan meninggalkan keluarga di
sini demi berdialektika lebih luas dalam dunia mahasiswa. Terkadang aku
merindukan saat dimana mereka memperhatikan hal-hal kecil yang terjadi padaku
dan anggota keluarga lainnya, tetapi aku kini sudah cukup dewasa untuk selalu
berkeluh kesah tentang segala yang terjadi dalam hidupku.
Mugi yang dulu selalu membantu orang tua membanting
tulang dalam kubangan lumpur sawah sekarang harus mulai memikirkan bagaimana
sekeluarga bersama-sama bisa keluar dari kubangan. Disini berbicara soal tekat
dan komitmen yang kuat untuk sama-sama saling membantu untuk berjuang keluar dari
kubangan itu, aku disini sebagai seorang anak pertama yang dijadikan ujung
tombak perjuangan untuk membawa perubahan yang dalam keluarga memiliki beban
yang cukup berat akan tetapi aku sadar
bahwa kalau bukan aku siapa lagi dan semangat yang selalu diberikan bapak
kepadaku selalu menguatkanku saat aku sedikit lelah dalam berjuang, aku
mengatakan bersama-sama karena pengorbanan keluarga teramat besar sampai
meminjam uang sana sini demi mengasah tombak perjuangannya (aku) agar semakin
runcing. Aku tak kan melupakan ini semua,
walau suatu saat nanti entah menjadi apa. Mereka tak pernah menagih
apapun padaku dan ini yang malah
membuatku sedikit bingung akan perjuangan yang aku lakukan selama ini. Meskipun
begitu aku tetap percaya pasti ada sesuatu dibalik ini semua, karena
perjalananku cukup keren untuk diceritakan suatu saat nanti kalo semisal aku
jadi orang besar atau entah apa itu sebutannya. Perjalananku hampir mirip kok
dinamikanya dengan orang-orang besar yang dulu juga berdarah – darah demi suatu
impiannya. Apa yang telah aku tuliskan ini adalah sedikit rasa gelisah saat aku
besok akan meninggalkan rumah dan kembali ke kota jember dimana aku kuliah dan
akan berteriak lagi ketika ditekan, bukan mengeluh tetapi sedikit membuat
perubahan untuk indonesia dewasa ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar