Minggu, 22 Januari 2017

  IMPIAN KITA BEBAS DARI KUBANGAN LUMPUR DIHARI ESOK



Tak tahu kenapa hari menjelang malam ditengah hujan mengguyur kotaku ini, aku merasa kurang gembira. Mungkin ini hanya perasaanku saja atau mungkin ini ada perasaan sayang yang akan kutinggalkan esok hari, sebuah kehangatan yang tidak akan kurasakan lagi, sebuah kenyamanan berkeluarga yang saat ini aku rasakan akankah bertahan hingga aku balik esok nanti ? gelisah bercampur rindu akan  perjuangan yang selalu mengusik tidurku dalam liburan semester ini. Aku tahu semua keputusan harus ada konsekuensinya, termasuk aku akan meninggalkan keluarga di sini demi berdialektika lebih luas dalam dunia mahasiswa. Terkadang aku merindukan saat dimana mereka memperhatikan hal-hal kecil yang terjadi padaku dan anggota keluarga lainnya, tetapi aku kini sudah cukup dewasa untuk selalu berkeluh kesah tentang segala yang terjadi dalam hidupku. 

Mugi yang dulu selalu membantu orang tua membanting tulang dalam kubangan lumpur sawah sekarang harus mulai memikirkan bagaimana sekeluarga bersama-sama bisa keluar dari kubangan. Disini berbicara soal tekat dan komitmen yang kuat untuk sama-sama saling membantu untuk berjuang keluar dari kubangan itu, aku disini sebagai seorang anak pertama yang dijadikan ujung tombak perjuangan untuk membawa perubahan yang dalam keluarga memiliki beban yang cukup berat  akan tetapi aku sadar bahwa kalau bukan aku siapa lagi dan semangat yang selalu diberikan bapak kepadaku selalu menguatkanku saat aku sedikit lelah dalam berjuang, aku mengatakan bersama-sama karena pengorbanan keluarga teramat besar sampai meminjam uang sana sini demi mengasah tombak perjuangannya (aku) agar semakin runcing. Aku tak kan melupakan ini semua,  walau suatu saat nanti entah menjadi apa. Mereka tak pernah menagih apapun padaku dan ini yang  malah membuatku sedikit bingung akan perjuangan yang aku lakukan selama ini. Meskipun begitu aku tetap percaya pasti ada sesuatu dibalik ini semua, karena perjalananku cukup keren untuk diceritakan suatu saat nanti kalo semisal aku jadi orang besar atau entah apa itu sebutannya. Perjalananku hampir mirip kok dinamikanya dengan orang-orang besar yang dulu juga berdarah – darah demi suatu impiannya. Apa yang telah aku tuliskan ini adalah sedikit rasa gelisah saat aku besok akan meninggalkan rumah dan kembali ke kota jember dimana aku kuliah dan akan berteriak lagi ketika ditekan, bukan mengeluh tetapi sedikit membuat perubahan untuk indonesia dewasa ini.